Kamis, 20 Oktober 2011

Perilaku Konsumen# Tugas : 2


Nama              : Benny Apriandy Hutapea


NPM               : 11209952


Kelas               : 3EA02


Mat.kul           : Perilaku Konsumen#


Tugas              : 2


 

Soal

Jelaskan apa yang dimaksud dengan konsumen dan ciri-ciri konsumen ?

Jawaban

Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumen


10 Ciri konsumen adalah: 

Karakter #1: BERPIKIR JANGKA PENDEK.
Cenderung memiliki memori yang pendek. Mereka cenderung mengingat manfaat produk jangka pendek. Cepat bosan dan mudah lupa. Nah, ini peluang bagi produk-produk baru yang meraih market yang pelupa seperti ini .


Ternyata sebagian besar konsumen Indonesia hanya berpikir jangka pendek dan sulit diajak berpikir jangka panjang salah satu cirinya adalah dengan mencari yang serba Instan. Makanya produk semacam Extra Joss,Hemaviton Jreng,Indomie dan lain sebagainya laris manis.


Sebaliknya masih sangat susah sekali memasarkan asuransi pada sebagian besar penduduk indonesia karena konsumen cenderung enggan melakukan investasi (dalam bentuk apapun) yang hasilnya bisa dinikmati mungkin belasan tahun ke depan.


Salah satu strategi yang masih ampuh untuk konsumen berpikiran pendek adalah dengan memberikan DISKON dan hadiah langsung.Survei AC Nielsen menunjukkan 76% pembeli menyukai diskon harga dan 18% menyukai hadiah langsung.Saya sudah sering kali membuktikan strategi ini.


Karakter #2: TIDAK TERENCANA.
Tidak memiliki perencanaan. Impulse buying masih merajai pengambilan keputusan sebagian besar orang Indonesia. Tapi, ke depannya akan semakin banyak yang melakukan perencanaan, kata Handy. Lihatlah, begitu antrinya pre booking tiket untuk Air Asia dan sebagainya.


Konsumen Indonesia termasuk konsumen yang tidak terbiasa merencanakan sesuatu.Sekalipun sudah,tapi mereka akan mengambil keputusan pada saat-saat terakhir.kebiasaan ini mirip dengan kebiasaan konsumen nomer satu.Namun jika kebiasaan pertama tidak melihat jauh ke depan,kebiasaan kedua ini tidak menyiapkan sesuatu jauh di belakang.


Mungkin rata-rata kita dulu juga mengenal SKS (sistem kebut semalam) dalam belajar atau dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu.Termasuk dalam mendaftar seminar sampai membayar tagihan,semua dilakukan dalam waktu yang mepet.


Salah satu bentuk perilaku konsumen yang tidak punya rencana adalah terjadinya IMPULSE BUYING (membeli tanpa rencana/spontan membeli ketika tertarik dengan sebuah produk).Berdasarkan survei Nielsen,ternyata 85% pembelanja ritel modern cenderung untuk berbelanja sesuatu yang tidak direncanakan.Strategi yang paling baik untuk karakter ini adalah dengan membuat display semenarik mungkin dan strategis tempatnya atau bisa juga di bantu dengan SPG.


Karakter #3: SUKA BERKUMPUL.
Cenderung berkelompok dan suka berkumpul. Istilah lainnya adalah guyub. Saya setuju dengan pendapat ini. Saya sendiri sering mengambil keputusan berdasarkan referensi kelompok.


Kebiasaan suka berkumpul sudah melekat dalam budaya konsumen kita,sampai adalah istilah “mangan ora mangan ngumpul” dalam masyarakat jawa.
Strategi paling efektif untuk karakter ini adalah strategi komunikasi Word of mouth,ini terbukti dari riset para pembeli rumah lewat KPR,awarenness tertinggi konsumen terhadap produk KPR bukanlah berasal dari iklan atau brosur,tetapi justru datang dari teman atau relasi.Hal serupa juga terjadi dalam pembelian minyak pelumas.


Kesuksesan yang di raih Amanda brownies dan Kartika Sari dari Bandung juga mengandalkan strategi ini.Kata kunci dari strategi word of mouth ini adalah terletak pada opinion leader dari komunitas yang ada.Sebab jika sang pemimpin bisa diyakinkan pada sebuah merk,maka dia akan memberikan rekomendasi kepada komunitasnya.


KARAKTER #4:GAGAP TEKNOLOGI.
Tidak adaptif terhadap teknologi baru. Ya, saya juga setuju dengan pendapat ini. Saya termasuk di dalamnya. Saya bukan early adopter. Kalau teknologinya sudah mentok, atau murah, baru saya beli . Untuk sebagian besar masyarakat, hal ini juga terkait dengan tingkat pendidikannya.


Rendahnya penetrasi teknologi tinggi di indonesia menunjukkan bahwa mayoritas konsumen kita relatif masih “gaptek” sehingga adopsi terhadap suatu teknologi relatif jauh lebih lambat.


Hal ini tampak dalam survei Frontier tentang alasan konsumen tidak menggunakan mobile banking,32,66% mengatakan tidak tahu mengoperasikannya dan 16,75 menganggapnya tidak aman.begitu juga dengan penetrasi penggunaan internet,baru menyentuh angka 9,0% bandingkan dengan malaysia yang penetrasinya sudah 47,8%.


Rendahnya tingkat penetrasi produk teknologi tinggi ini berhubungan erat dengan dengan tingkat pendidikan masyarakat kita.Namun,jangan pesimis dulu.Sebab,konsumen yang berusia muda kini lebih adaptif dengan teknologi baru karena dorongan arus globalisasi.
Sayangnya,daya beli mereka tidak begitu tinggi.Untuk mengatasi masalah daya beli ini,pemasar bisa mengusung strategi PRICE BUNDLING,seperti yang di lakukan Frent,Esia,Flexi dan yang lainya.Bisa juga dengan mempermudah penggunaanya,seperti yang dilakukan oleh Nokia.


KARAKTER #5: ORIENTASI PADA KONTEKS.
Cenderung fokus kepada konteks, bukan konten. Nah, pendapat ini semakin membenarkan pendapatnya Hermawan Kartajaya yang sudah lama digulirkannya. Lihat saja, di mana-mana yang dipromosikan, yang diblow-up adalah konteksnya, bukan kontennya. Tapi, it works untuk konsumen di Indonesia. Kalau anda baca majalah Reader’s Digest versi bahasa Inggris, setiap iklan produk obat, selalu dibuat 2 halaman, 1 halaman untuk iklan, 1 halaman untuk penjelasannya.


Konsumen kita cenderung menilai dan memilih sesuatu dari tampilan luarnya.Dengan begitu,konteks-konteks yang meliputi suatu hal justru lebih menarik ketimbang hal itu sendiri.
Tiga ciri spesifik konsumen kita dalam menyerap informasi.Pertama,memiliki minat baca yang rendah.kedua,memilih segala sesuatu-baik dari membaca atau menonton- yang ringan dan menghibur.Ketiga,mudah diubah persepsinya.


Dampak dari ciri tersebut terhadap perilaku komsumsi orang Indonesia dibuktikan dengan layanan informasi SMS yang didominasi layanan ring tones dan musik.selain itu tampak pula dengan tingginya rating acara-acara infotainment.Keengganan membaca juga menyebabkan konsumen kurang memperhatikan informasi yang terdapat pada suatu produk.


Banyak produk farmasi yang mempunyai kandungan yang sama persis dan fungsi yang sama tetapi karena cara komunikasinya berbeda,akhirnya persepsi yang tercipta lain pula.sekitar 99% konsumen kita tidak mengerti kandungan obat bebas.


KARAKTER #6 : LEBIH MENYUKAI PRODUK LUAR NEGERI.


Betul juga. Bahkan menurut saya orang Indonesia lebih early adopter soal ini dibandingkan penduduk Malaysia atau Philipina. Para pengunjung mal KLCC masih kalah keren dibandingkan pengunjung mal Plaza Senayan. Makanya merek-merek lokal banyak yang mencitrakan dirinya seolah-olah adalah merek import.


KARAKTER #7 : SEMAKIN MEMPERHATIKAN MASALAH RELEGIUS.


Pangsa pasar dari produk-produk yang mempunyai nilai agama akan semakin besar. Nah, soal ini saya setuju sekali dan menjadi semakin bersemangat. Kenyataan di lapangan memang demikian. Maka, saya pun setuju dengan pendapat ini.


KARAKTER #8 : SUKA PAMER DAN GENGSI.


Yup, ini pun betul. Seorang teman yang disainer senior mengatakan, orang Indonesia suka berpakaian yang “look at me!”.


KARAKTER #9 : BANYAK DIPENGARUHI OLEH SUBCULTURE.


Maksudnya konsumen Indonesia akan semakin cair dan tidak lagi ada perbedaan antara suku dan geografis. Kalau anda jalan-jalan ke Bukittinggi, di sana anak-anak mudanya sudah persis seperti anak metropolitan. Gayanya, dandanannya, musiknya, bahasanya. Tidak ada bedanya dengan yang di Palembang, Sukabumi atau Bandung.


KARAKTER #10 : TIDAK PEDULI LINGKUNGAN.


 Sumber : http://mukhlisukses.wordpress.com/2008/05/21/10-karakter-konsumen-indonesia-bagian-pertama/

Sumber : http://www.jualanbuku.com/2008/04/02/10-karakteristik-konsumen-indonesia/


2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perilaku konsumen ?

Perilaku konsumen adalah proses dan aktifitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.


 Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen

 3. Jelaskan penggunaan segmentasi pasar dalam penetapan strategi pemasaran ?

Umumnya kita mengenal ada 4P dalam marketing mix, yakni Product, Price, Place dan Promotion. Namun dalam pemasaran jasa atau services marketing, masih ada 4P yang lain yaitu Process, People, Physical Environment dan Productivity & Quality. Maka untuk penggunaan segmentasi pasar dalam penetapan strategi pemasaran harus dapat  memiliki 8 P unsur penggunaan pasar unsur atau variabel bauran pemasaran (Marketing mix) tersebut

atau yang disebut eight p's adalah sebagai berikut: 


1.  Strategi Produk


2.  Strategi Harga


3.  Strategi Penyaluran / Distribusi


4.  Strategi Promosi


5.  Procces. Komponen ini adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pasa saat penghantaran jasa. Sebagai sesuatu yang intangible, workflow di atas kertas itulah ‘wujud’ sebuah jasa.


6.  People. Workflow tak berarti tanpa orang yang menjalankannya. Oleh karena itu, orang juga termasuk dalam komponen marketing mix jasa.


7.  Physical Environment. Ini adalah elemen-elemen fisik pada saat menghantarkan jasa yang menentukan juga nilai dari jasa tersebut di mata konsumen.


8.  Productivity & Quality. Dalam Jasa juga ada komponen biaya yang dihitung berdasarkan aktivitas, makanya kita mengenal istilah activity based accounting. Sementara itu kualitas sangat penting pada Jasa ketimbang pada produk. Jika produk kualitas rendah masih bisa laku di pasar, tidak demikian halnya dengan Jasa


 Sumber : http://smarketing08.wordpress.com/2008/08/05/8p-pada-services-marketing/.

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen

Swastha dan Irawan (2001) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan perasaan dan emosi, bila seseorang merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa maka hal itu akan memperkuat minat membeli, ketidakpuasan biasanya menghilangkan minat.
Super dan Crites (Lidyawatie, 1998) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu :
a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pekerjaan yang ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan waktu senggangnya, dan lain-lain.
b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai sosial ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkannya daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.
c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang menggunakan waktu senggangnya.
d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda dengan minat pria, misalnya dalam pola belanja.
e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas benda dan seseorang.

Sedangkan menurut Kotler, Bowen, dan Makens (1999) terdapat dua faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yaitu situasi tidak terduga (Unexpected situation) dan sikap terhadap orang lain (Respect to Others)

Untuk memahami proses motivasi yang mendasari dan mengarahkan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian perlu dipahami beberapa konsep antara lain;

a. Teori ekonomi mikro
Menurut teori ini keputusan membeli merupakan hasil perhitungan ekonomis rasional yang sadar. Teori ini didasarkan pada asumsi yaitu:
1. Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memaksimumkan kepuasaanya dalam batas-batas kemampuan finansialnya
2. Bahwa ia mempunyai pengetahuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.
3. Bahawa ia selalu bertindak rasional.

b. Teori Psikologis
Ada beberapa teori yang termasuk dalam teori psikologis yang secara garis besar dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu, teori belajar dan teori psikoanalitis.
Teori psikologis ini mendasarkan pada penerapan teori psikologis yang berpendapat bahwa pada umumnya manusia selalu didorong untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

c. Teori Psikoanalitis
Teori Psikoanalitis didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh adanya keinginan yang terpaksa dan adanya motif yang tersembunyi. Perilaku manusia ini adalah merupakan hasil kerja sama dari ketiga aspek dalam struktur kepribadian manusiab yaitu, id (das es), ego (das ich) dan super ego (das veber ich).

d. Teori Antropologis
Menurut teori ini bahwa perilaku manusia dipenhgaruhi oleh kultur yang terdiri dari masyarakat sekitar, kelas sosial yang berlaku serta keluarga.


Sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/10/membangun-minat-beli-definisi-faktor.html



Tidak ada komentar: